Inilah Sejarah Virus Corona Sebelum Munculnya COVID-19

Virus Corona (CoV) masuk dalam subfamily Orthocoronavirinae dalam keluarga Coronoviridae. Corona merupakan keluarga besar dari virus yang mampu menginfeksi unggas, mamalia, dan bahkan manusia.

Virus ini dapat menyebabkan penyakit, mulai dari flu ringan sampai dengan infeksi pernapasan akut. Karakteristik virus Corona adalah bersifat zoonosis, yaitu dapat menularkan penyakit melalui hewan dan manusia.

Selama kurun waktu 70 tahun terakhir, diketahui bahwa virus Corona telah mampu menginfeksi tikus, anjing, kalkun, kucing, babi, kuda, dan beberapa hewan ternak lainnya.

Virus Corona menjadi penyebab terjadinya beberapa wabah mematikan di seluruh dunia, seperti pandemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) di Cina pada tahun 2002-2003 dan wabah Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Timur Tengah pada tahun 2012.

Asal Kata “Corona”

Nama “Corona” diambil dari bahasa Latin, Corona, dan bahasa Yunani, Corone, yang berarti mahkota atau lingkaran cahaya.

Penamaan ini tidak lepas dari wujud khas virus tersebut, yang memiliki pinggiran permukaan bulat dan besar, sehingga mengingatkan pada corona matahari.

Bentuk mirip mahkota ini tercipta oleh peplomer biral spike yang merupakan protein pengisi permukaan virus.

Istilah Corona pertama kali diperkenalkan sejumlah ahli virologi dalam sebuah artikel berjudul Coronaviruses pada jurnal News dan Views  pada tahun 1968.

Di dalam artikel tersebut disebutkan bahwa terdapat virus berbentuk bulat yang banyak ditemukan pada unggas dan tikus.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada obat yang mampu memusnahkan virus ini selamanya.  Cara yang paling efektif untuk mencegah penularan virus ini adalah tidak berinteraksi dengan penderita yang terinfeksi virus serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Sejarah Perkembangan Virus Corona

Para ilmuwan pertama kali melakukan isolasi terhadap virus Corona pada tahun 1937 yang saat itu dicurigai menjadi penyebab penyakit bronkitis menular pada unggas.

Selanjutnya pada tahun 1965, dua orang peneliti bernama Tyrrell dan Bynoe menemukan bukti adanya virus Corona pada manusia yang sedang mengalami flu biasa.

Kedua peneliti tersebut menemukan virus Corona melalui teknik kultur organ trakea embrionik dari saluran pernapasan penderita flu tersebut.

Kemudian, pada akhir tahun 1960, Tyrrell memimpin penelitian tentang strain beberapa virus yang dapat ditularkan pada manusia dan hewan,seperti virus infeksi bronkitis, virus hepatitis tikus, dan virus gastroenteritis pada babi.

Semua jenis virus tersebut menunjukkan kesamaan morfologi setelah dilihat menggunakan mikroskop elektron. Para peneliti tersebut kemudian sepakat untuk memasukkan virus Corona sebagai genus virus baru.

Sampai saat ini sudah dikenal tujuh jenis virus Corona yang menginfeksi manusia. Akan tetapi, sampai saat ada tiga jenis virus Corona yang sebenarnya cukup jarang dan menyebabkan komplikasi lebih parah. Ketiganya adalah SARS, MERS, dan COVID-19.

1. SARS

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus corona SARS (SARS-CoV).

Penderita yang terkena SARS mengalami gangguan pernafasan yang akut (terjadi dalam waktu cepat) dan dapat menyebabkan kematian.

SARS menjadi penyakit menular yang sangat berbahaya, karena dapat mengenai siapa saja, terutama orang tua.

Penyakit SARS pertama kali muncul di Provinsi Guangdong, Cina Selatan pada tanggal 16 November 2002.

Di dalam waktu kurang lebih 3 bulan, SARS sudah menginfeksi 305 jiwa dengan kasus kematian mencapai 5 kasus.

Pada saat tersebut, kasus tersebut dianggap sebagai radang paru-paru yang tidak khas atau istilah medisnya disebut pneumonia atipikal.

Kemudian pada Februari 2003, SARS berhasil diidentifikasi untuk pertama kalinya. Seorang dokter, bernama dr. Carlo Urbani, menemukan penyakit tersebut pada seseorang yang bepergian dari China ke Vietnam melalui Hong Kong.

Pasien tersebut dan dr. Carlo akhirnya meninggal karena penyakit SARS. SARS menyebar dan menginfeksi ribuan orang di Asia, Australia, Eropa, Afrika, dan benua Amerika. Saat puncak penyebaran, kasus SARS yang baru, dapat mencapai 200 kasus tiap harinya.

Saat epidemi tersebut, virus SARS telah menginfeksi lebih dari 8.000 orang di seluruh dunia dan telah membunuh hampir 800 orang.

Gejala yang sering dialami seluruh penderita SARS adalah demam di atas 38 derajat celcius yang kemudian terjadi sesak napas.

Penyakit ini belum ada vaksinnya, sehingga penanggulangannya hanya dibantu dengan alat bantu pernapasan.

2. MERS

MERS (Middle East Respiratory Syndrome) merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh MERS-Cov. Virus ini pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada tahun 2012.

Beberapa kasus infeksi MERS-Cov tidak menunjukkan gejala klinis sebelumnya. Akan tetapi seseorang akan terinfeksi MERS-Cov setelah menjalami tes laboratorium.

Beberapa gelaja MERS yang khas adalah demam, batuk, dan sesak napas. Gejala lain yang biasanya muncul adalah mual, muntah, dan diare.

Unta diduga menjadi inang utama MERS-Cov dan sumber hewan dari infeksi virus tersebut ke manusia.

Meski MERS CoV menular, tetapi penularannya tidak semudah flu biasa. MERS CoV lebih rentan menular melalui kontak langsung, misalnya pada orang yang merawat penderita MERS tanpa menerapkan prosedur perlindungan diri terhadap virus dengan baik.

MERS telah menginfeksi ribuan orang di lebih dari 26 negara di dunia. Sekitar 35 persen penderita virus tersebut meninggal dunia.

3. COVID-19

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa COVID-19 adalah jenis virus baru yang mampu menyebabkan beberapa penyakit, mulai dari flu biasa sampai dengan sindrom pernapasan akut parah, Virus ini ditemukan pada bulan Desember 2019 di Wuhan, Cina.

Wuhan merupakan salah satu kota di CIna bagian tengah. Virus ini mulai menyerang kota tersebut dengan wabah yang diduga menyerupai pneumonia.

Pada tanggal 5 Januari 2020, tiba-tiba sebanyak 59 orang yang tinggal di dekat pasar ikan di kota Wuhan mengalami gejala seperti pneumonia.

Segera setelah kejadian tersebut, pemerintah setempat menutup pasar ikan Wuhan untuk mencegah dampak yang lebih luas. Pemerintah juga memberikan imbauan untuk menjauhi pasar ikan dan mencegah kontak langsung dengan pasien.

Gejala awal infeksi virus Corona sangat mirip dengan flu biasa. Ada tiga gejala lebih lanjut yang perlu diwaspadai sebagai ciri yang diduga dampak dari penyebaran virus Corona, yaitu deman, batuk (kering maupun berdahak), dan kesulitan bernapas.

COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi global, karena sudah menyebar ke lebih dari 140 negara di dunia dan menginfeksi ribuan orang.

 

Leave a Reply