Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Virus Corona

Seperti kita ketahui pada awal tahun 2020, infeksi 2019-nCoV (Virus Corona) menjadi masalah kesehatan dunia.

Kasus ini diawali dengan informasi dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) pada tanggal 31 Desember 2019 yang menyebutkan adanya kasus kluster pneumonia dengan etiologi yang tidak jelas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Kasus ini terus berkembang hingga akhirnya diketahui bahwa penyebab kluster pneumonia ini adalah novel coronavirus.

Kasus ini terus berkembang hingga adanya laporan kematian dan terjadi importasi di luar China. Sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi hal tersebut maka penting bagi Indonesia untuk menyusun pedoman kesiapsiagaan dalam menghadapi 2019-nCoV (Virus Corona).

Pada Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Virus Corona ini dijelaskan mengenai :

1. Surveilans dan Respon;

2. Manajemen Klinis;

3. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi;

4. Pengelolaan Spesimen dan Konfirmasi Laboratorium; dan

5. Komunikasi Risiko dan Pemberdayaan Masyarakat

Pedoman ini ditujukan bagi petugas kesehatan sebagai acuan dalam melakukan kesiapsiagaan menghadapi 2019-nCoV.

Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Virus Corona ini bersifat sementara karena disusun dengan mengadopsi pedoman sementara WHO sehingga akan diperbarui sesuai dengan perkembangan penyakitdan situasi terkini.

Lata Belakang

Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulaidari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknyadua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).

Novel coronavirus (2019-nCoV) adalah virusjenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia.

Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia.

Beberapa coronavirus yang dikenal beredar pada hewan, akan tetapi belum terbukti menginfeksi manusia.Manifestasi klinis biasanya muncul dalam 2 hari hingga 14 hari setelah paparan.

Tanda dan gejala umum infeksi coronavirus, antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batukdan sesak napas.

Pada kasus yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut,  gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.

Pada tanggal 7 Januari 2020, Cina mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (novel coronavirus, 2019-nCoV).

Penambahan jumlah kasus 2019-nCoV berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran ke luar wilayah Wuhan dan negara lain.

Sampai dengan 26 Januari 2020, secara global1.320 kasus konfim di 10 negara dg 41 kematian (CFR 3,1%). Rincian China 1297 kasus konfirmasi(termasuk Hongkong, Taiwan, dan Macau) dengan 41 kematian (39 kematian di Provinsi Hubei, 1 kematian di Provinsi Hebei, 1 kematian di Provinsi Heilongjiang), Jepang (3 kasus), Thailand (4 kasus), Korea Selatan (2 kasus), Vietnam (2  kasus), Singapura (3 kasus), USA (2 kasus),Nepal (1kasus), Perancis (3 kasus), Australia (3 kasus).

Di antara kasus tersebut, sudah ada beberapa tenaga kesehatan yang dilaporkan terinfeksi. Sampai dengan 24 Januari 2020, WHO melaporkan bahwa penularan dari manusia ke manusia terbatas (pada kontak keluarga) telah dikonfirmasi di sebagian besar Kota Wuhan, China dan negara lain.

Tanda-tanda dan gejala klinis yang dilaporkan sebagian besar adalah demam, dengan beberapa kasus mengalami kesulitan bernapas, dan hasil rontgen menunjukkan infiltrat pneumonialuas di kedua paru-paru.

Baca : Lockdown untuk Batasi Sebaran Virus Corona, Ini Bedanya Dengan Karantina dan Isolasi

Menurut hasil penyelidikan epidemiologi awal, sebagian besar kasus di Wuhan memiliki riwayat bekerja, menangani, atau pengunjung yang sering berkunjung ke Pasar Grosir Makanan Laut Huanan.

Sampai saat ini, penyebab penularan masih belum diketahui secara pasti. Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan secara teratur, menerapkan etika batuk dan bersin, memasak daging dan telursampai matang. Hindari kontak dekat dengan siapa pun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin.

Tujuan Pedoman

1. Tujuan Umum

Melaksanakan kesiapsiagaan dalam menghadapi infeksi 2019-nCoVdi Indonesia.

2. Tujuan Khusus

a. Melaksanakan surveilans dan respon Kejadian Luar Biasa (KLB)/wabah

b. Melaksanakan manajemen klinis infeksi saluran pernapasan akut berat (pada pasien dalam pengawasan2019-nCoV).

c. Melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi selama perawatan kesehatan.

d. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium.

e. Melaksanakan komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan respon

Ruang Lingkup

Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Virus Corona meliputi surveilans dan respon KLB/wabah, manajemen klinis, pemeriksaan laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, pemeriksaan laboratoriumdan komunikasi risiko.

Baca : Virus Corona Dinyatakan Pandemi, Inilah Bedanya Dengan Epidemi dan Wabah

Pedoman ini disusun berdasarkan rekomendasi WHO sehubungan dengan adanya kasus 2019-nCoVdi Wuhan, China.

Pedoman ini diadopsi dari pedoman sementara WHOserta akan diperbarui sesuai dengan perkembangan kondisi terkini.Pembaruan pedoman dapat diakses pada situs www.infeksiemerging.kemkes.go.id.

Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Virus Corona secara lengkap dapat di unduh di sini.

Demikian pedoman kesiapsiagaan menghadapi infeksi Virus Corona. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply