Bentuk-bentuk Social Distancing Untuk Cegah Sebaran COVID-19

Salah satu bentuk pencegahan non farmasi yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran atau memutus mata rantai infeksi virus Corona (COVID-19) adalah dengan social distancing measures (menjaga jarak sosial).

Menurut catatan sejarah, praktik social distancing ini sebenarnya pernah dilakukan ketika terjadi pandemi influenza di negara Spanyol pada tahun 1918. Pandemi artinya penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia.

Praktik social distancing tersebut akhirnya telah berhasil menekan tingkat kematian secara signifikan.

Terkait kasus infeksi virus Corona, Badan Kesehatan Dunia, WHO di dalam konferensi pers, Selasa (10/3/2020) secara resmi telah mengumumkan bahwa COVID-19n telah berganti status dari epidemi menjadi pandemi global.

Infeksi virus Corona sudah menyebar ke lebih dari 110 negara yang menunjukkan bahwa infeksi virus tersebut sudah terjadi pada banyak negara di dunia dengan penyebaran relatif cepat.

Sampai saat ini memang belum terdapat studi ilmiah yang mempelajari pengaruh social distancing terhadap efektifitas pencegahan penyebaran virus Corona.

Akan tetapi, WHO sendiri telah merekomendasikan negara yang terinfeksi COVID-19 untuk melakukan tindakan mendesak guna mengurangi transmisi dan pencegahan penyebarannya lebih lanjut, salah satunya adalah mempraktikkan social distancing.

Apa itu Social Distancing?

Pada saat virus Corona atau yang dikenal dengan nama COVID-19 menjadi sebuah pandemi dan menyebar dengan sangat cepat ke seluruh belahan dunia, maka beberapa negara mulai memberlakukan social distancing.

Baca : Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Virus Corona

Misalnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat sudah mengimbau kepada seluruh warganya untuk melakukan social distancing untuk mencegah penularan COVID-19 secara lebih masif.

Social distancing adalah sebuah praktik kesehatan publik yang direkomendasikan secara resmi oleh pejabat kesehatan sebagai upaya untuk memperlambat penyebaran virus dari satu orang ke orang lain.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka di dalam praktik social distancing, kita harus berusaha untuk meminimalkan kontak dengan orang lain, terutama ketika berada di tempat umum.

Kegiatan yang dapat dilakukan sebagai bentuk social distancing adalah menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia.

Dengan cara ini, akan dapat mengurangi penyebaran COVID-19 karena virus baru ini menular dari manusia ke manusia melalui partikel air liur (droplet) pada saat penderita batuk atau bersin.

Bentuk-bentuk Social Distancing

Resiko tertinggi penularan COVID-19 adalah melalui kotak tubuh, sehingga bentuk social distancing yang paling sederhana adalah dengan meminimalkan kontak langsung antar manusia dan menjaga jarak tertentu saat berkomunikasi.

Hindari juga berjabat tangan jika ada pertemuan, bergandengan tangan, dan berpelukan pada tempat-tempat yang beresiko terpapar COVID-19.

Kegiatan social distancing dapat dilakukan secara individu atau pun dikoordinir oleh pemerintah daerah setempat.

Bentuk social distancing yang dapat dilakukan oleh individu, misalnya tidak mendatangi tempat-tempat keramaian, seperti pusat perbelanjaan, event besar yang menghadirkan banyak publik, ruang publik, maupun tempat-tempat wisata.

Social distancing lainnya yang dapat dilakukan oleh individu adalah dengan menjaga jarak minimal dua meter dengan orang lain dan tidak melakukan jabat tangan, bergandengan tangan, maupun berpelukan.

Tetapi tidak hanya menjaga jarak, kita juga harus tetap menjaga kebersihan diri melalui cuci tangan sesering mungkin dengan sabun atau antiseptik, menerapkan etika ketika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika bepergian atau berada di ruang publik.

Baca : Lockdown untuk Batasi Sebaran Virus Corona, Ini Bedanya Dengan Karantina dan Isolasi

Bentuk social distancing yang diatur oleh pemerintah, misalnya penangguhan event-event besar dan menutup ruang-ruang publik dalam beberapa hari yang ditentukan.

Upaya pemerintah daerah menutup beberapa destinasi wisata selama 14 hari dan menerapkan sistem kerja di rumah atau tempat tinggal (work from home) adalah contoh social distancing yang diterapkan oleh pemerintah.

Social distancing tentu saja tidak dapat mencegah penyebaran COVID-19 secara seratus persen. Akan tetapi dengan mengikuti langkah sederhana ini, maka setiap individu akan memiliki peran penting untuk memutus mata rantai penyebarannya.

Leave a Reply